Model dan Stategi Pembelajaran Tajwid
Di tangan para ahli qiroat, ilmu tajwid terus mengalami perkembangan dan penyempurnaan. Ia terus berkembang dan tak berhenti pada satu titik pembehentian. Evolusi merupakan hakikat dari ilmu pengetahuan. Secara alamiah, ia mesti menerima sebuah perubahan agar tak lekang oleh zaman. Begitu juga pada model dan strategi yang diterapkan dalam proses pembelajaran tajwid. Seiring penemuan model dan strategi pembelajaran di dunia pendidikan modern, maka transfer ilmu tajwid kepada peserta didik semakin bervariasi. Jika mengikuti cara pandang ini, maka format pembelajaran tajwid mesti melibatkan semua panca indera agar tidak monoton dan menampilkan suasa yang ceria dan menyenangkan. Di samping itu, peran seorang pengajar tajwid tak dapat dikesampingkan. Ia berperan sebagai seorang tutor. Ini tak lepas dari proses pemberian contoh-contoh bacaan yang baik dan benar, di mana guru sebagai pusatnya. Untuk mencapai hasil maksimal, maka pengajar tajwid sekurang kurangnya memiliki kompetensi teoretis dan praktis dalam bidang Al-Qur’an. Sebab ia adalah katalisator yang sedikit banyak menentukan kualitas bacaan peserta didik. Selain kompetensi ini, pengajar tajwid juga memerlukan cara agar pengetahuan dan skill yang ia miliki dapat ditransfer kepada peserta didik yang memiliki aneka macam karakter. Sehingga, pengajar tajwid dituntut untuk berpikir idealis dan realistis dalam satu waktu. Yang demikian ini tentu tidak mudah. Guru berada dalam situasi dilematis. Idealis berhubungan dengan hasil pembelajaran.
Sementara realistis berhubungan dengan kemampuan dan karakter peserta didik yang beragam, kondisi lembaga pendidikan, dan situasi yang ada di dalam lingkungan sekitar. Pada titik singgung ini, kreativitas seorang guru adalah kunci suksesnya. Inilah yang dimaksud dengan strategi pembelajaran. Tahapan-tahapan yang dirancang untuk mencapai hasil maksimal dengan mempertimbangkan faktor-faktor di sekitarnya (Reksiana, 2018; Sanjaya, 2010). Zarkasyi mencatat ada tiga strategi yang dapat ditempuh dalam proses pembelajaran tajwid. Pertama, sistem privat. Sistem ini dikenal juga dengan sorogan. Dalam sistem ini, peserta didik secara bergiliran, satu per satu, membaca contoh bacaan. Kedua, sistem klasikal individu di mana guru sebagai aktor utama. Ia menjelaskan teori sekaligus mempraktikannya. Dan ketiga, sistem klasikal baca-simak. Prosesnya, guru menjelaskan teori dan praktik, lalu peserta didik dites satu per satu dan disimak oleh seluruh peserta didik (Astuti, 2020). Potret yang ditampilkan oleh Zarkasyi merupakan strategi yang jamak ditemukan pada lembaga pendidikan. Strategi ini berorientasi pada hasil yang diinginkan dalam pembelajaran konvensional. Hanya saja, strategi ini memiliki kelemahan mendasar dalam format pembelajaran dengan alokasi waktu tertentu dan terbatas. Efeknya, tidak mampu mengcover semua peserta didik. Kelemahan strategi pembelajaran di atas, dapat diselesaikan dengan memadukannya dengan tawaran As’ad Human. Dalam praktik, guru merekomendasikan peserta didik yang tingkatannya lebih tinggi sebagai tutor. Yang dikenal dengan istilah tutor sebaya. Dengan adanya asistensi dari peserta didik lain, dapat mengefisensi waktu pembelajaran (Astuti, 2020). Yang patut disadari, Ilmu tajwid bukanlah ilmu teoretis murni yang berhenti pada pemahaman peserta didik. Alangkah lebih tepat dikatakan bahwa ilmu tajwid masuk dalam kategori ilmu praktik. Di mana peserta didik memperoleh porsi lebih banyak untuk berlatih menerapkan teori-teori tajwid. Paradigma pendidikan ini dapat kita saksikan pada pendidikan vokasi. Di dalamnya, peserta didik tidak hanya fokus pada dimensi akademik melainkan memberikan perhatian lebih besar pada praktik. Porsinya, berkisar antara 30-40 persen penguasaan teori dan 70-60 persen ditujukan untuk praktik (Bahagijo dkk., 2019). Artinya, kompetensi pemahaman terhadap materi mendapat alokasi lebih kecil dari pada alokasi waktu untuk melatih bacaan sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid. Akan tetapi, penguasaan materi tajwid tidak boleh dikesampingkan sama sekali. Diperlukan metode-metode kreatif agar penguasaan dan pemahaman peserta didik dapat dicapai secara maksimal dan efisien. Dalam proses ini, metode tajwid jemari dapat dijadikan sebagai salah satu solusinya. Di mana, fokus utama metode tajwid jemari adalah penguasaan materi tajwid dengan cara yang mudah dan menyenangkan. Sebagaimana tageline dari metode ini “ilmu tajwid dalam genggaman.” Formula ini sesuai dengan cara pandang revolusi cara belajar. “Jika kita belajar dari apa yang kita dengar maka kita akan lupa. Jika kita belajar dari apa yang kita lihat dan kita dengar maka kita akan hafal. Jika kita belajar dari apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita lakukan maka kita akan memahami,” ungkap Dryden dan Vos (Yulianti, 2019). Kini, pembelajaran tajwid semakin variatif agar proses pembelajaran terbebas dari kesan “membosankan.” Beberapa strategi pembelajaran yang diadaptasi adalah strategi pembelajaran menggunakan metode mnemonik, bernyanyi, encoding, jarimatika, dan lain sebagainya.
Metode Bernyanyi
Setiap kita pasti pernah menyanyikan lirik-lirik dalam sebuah lagu. Bahkan, dalam beberapa kesempatan kita seolah-olah merespon sebuah lagu secara reflek. Tiba-tiba bibir kita bergerak sendiri komat-kamit. Tanpa ada instruksi khusus. Mengapa ini bisa terjadi? Honig menjelaskan bahwa manusia sejak lahir memiliki kesenangan untuk merespon suara-suara di sekitarnya. Kemampuan ini bersifat biologis dan natural (Dhea dkk., 2019). Berangkat dari pola pikir ini, proses belajar telah mengadopsi bernyanyi sebagai salah satu metode pembelajaran. Secara sederhana, metode bernyanyi merupakan metode yang melafazkan suatu kata atau kalimat dengan bernyanyi. Dengan metode ini, dapat membantu mengingkatkan daya nalar, menyalurkan emosi, juga memperkaya perbendaharaan kata peserta didik (Badriyah, 2014). Hal ini dikuatkan oleh riset yang dilakukan Al Dhea, dkk. Bahwa bernyanyi berpengaruh positif pada perkembangan bahasa peserta didik (Dhea dkk., 2019).
Metode Memonik
Salah satu metode menguatkan hafalan adalah metode Mnemonik. Secara bahasa, mnemonk berarti kepandaian untuk menghafal. Dua unsur utama dalam metode ini terletak pada daya imajinasi dan teknis asosiasi. Stine mengungkapkan bahwa metode mnemonik merupakan teknik pikiran untuk mengasosiasikan gambaran untuk sejumlah kata, ide maupuan gagasan. Dalam dunia brain, kita mengenal pembagian otak kanan dan otak kiri. Keduanya memiliki fungsi masing-masing. Dari bagian otak ini, metode mnemonic memacu kinerja otak kanan yang menjadi sumber imajinasi dan proses asosiasi. Sehingga, secara tidak langsung, peserta didik akan mendayagunakan dua bagian otak sekaligus dalam proses belajar, otak kanan dan otak kiri. Untuk memaksimalkan metode Mnemonik, dapat menggunakan teknik berikut ini: 1 Teknik akronim Mungkin kita sering mendengar kata-kata BRI, ABRI, dan DPR. Jika diperhatikan kata-kata ini akan lebih mudah diingat dari pada Bank Republik Indonesia, misalnya. Yang demikian ini dinamakan teknik akronim. Yakni menggabungkan huruf yang disusun membentuk sebuah kata. Teknik ini digunakan untuk menghafal kata-kata yang berurutan. Coba lihat pada rangkaian syair huruf-huruf Ikhfa’. 2 Teknik akrostik Teknik ini mirip seperti teknik sebelumnya. Bedanya, untuk menghafal rangkaian kata-kata, teknik ini memanfaatkan beberapa huruf pertama dari kata yang akan dihafal. Teknik ini disebut juga metode kalimat. 3 Teknik peg word Metode ini mencoba untuk menghubungkan suatu kata dengan gambaran benda yang menyerupai kata tersebut. Misalnya angka 1 dengan lilin, huruf ba, ta, tsa, dengan perahu. Titik satu di bawah adalah huruf ba. Titik dua di atasnya adalah huruf ta. Titik tiga di atasnya adalah huruf tsa. 4 Teknik loci Jika teknik-teknik sebelumnya berada pada permainan kata, maka teknik loci mengaitkan memori visual atau asosiai fakta dengan tempat. Caranya: pilihlah tempat yang sering dikunjungi dan selalu diingat sehari-hari. Misalnya anda memilih ruang tamu. Di dalam ruangan itu terdapat sofa, meja, televisi, jam dinging, lampu, dan lukisan dinding. Langkah selanjutnya pilihlah fakta yang akan dihafal dan pilihlah unsur-unsur yang berhubungan dengan benda-benda yang ada di ruang tamu. Langkah terakhir, coba anda visualisasikan sebuah gambaran yang dapat menghubungkan dengan benda-benda tersebut. Setelah langkah ini anda lakukan, ulangi proses tersebut beberapa kali dalam satu hari. 5 Teknik imagery visual Sesuai namanya, teknik ini mencoba untuk membangkitkan kemampuan imajinasi dan visualisasi. Dengan menghadirkan gambaran objek yang akan dihafal ke dalam pikiran (Anshorulloh, 2008).
Metode Encoding Metode ini dikenal juga dengan metode penyandian. Yakni, memproses informasi dari memori jangka pendek (shor term memory) ke memori jangka panjang (long term memory). Berbagai hal yang kita serap dari panca indera akan tersimpan dalam memori pertama namun memiliki potensi besar untuk sulit diingat kembali. Informasi itu akan mudah diingat kembali ketika mampu ditransfer ke dalam memori kedua. Oleh karenanya, pembuatan sandi terhadap informasi tersebut sangat penting. Tujuannya, agar mudah dialihkan ke memori kedua juga mudah untuk diingat kembali (Lestari, 2018).
Implementasi Tajwid Jemari
Penerapan Integrated Terdapat 7 jenis kecerdasan yang dapat diadaptasi dalam Tajwid Jemari, yakni: Aktivasi kecerdasan linguistik Cara aktivasinya adalah sebagai berikut: a. Pembimbing mencontohkan bacaan dengan benar dan fasih (jelas). b. Peserta menyimak (mendengarkan) setiap contoh bacaan yang disampaikan pembimbing dengan cermat dan teliti. c. Kemudian, peserta melafadzkan kalimat yang dicontohkan oleh pembimbing sampai benar dan fasih. d. Peserta mengulang-ulang melafadzkan kalimat sesuai arahan pembimbing. e. Peserta juga menyimak (mendengarkan) melafadzkan bacaan di hadapan peserta lainnya. f. dan Proses ini terus menerus dilakukan oleh peserta sehingga teraktivasi perkembangan dan peningkatan kecerdasan linguistiknya. Indikatornya adalah peserta bisa melafadzkan secara fasih (jelas) dan benar.
Aktivasi kecerdasan matematik
Cara aktivasinya adalah sebagai berikut: a. Pembimbing menanyakan posisi jari tangan dan kesesuaian bait yang sedang dihafal oleh peserta. b. Peserta menunjukkan posisi ruas jari tangan dengan kesesuaian bait yang sedang dihafal. Bila poisisi ruas jari tangan tidak sesuai, maka peserta tidak konsentrasi dalam proses menghafal, karena menggerakaan ruas jari yang sesuai dengan penomeran bait membutuhkan konsentrasi. c. Pembimbing mengevaluasi hafalan peserta, dengan cara menanyakan nomor bait secara acak. d. Proses ini terus menerus dilakukan oleh peserta dalam menghafal, sehingga teraktivasi perkembangan dan peningkatan kecerdasan matematicnya. Indikatornya peserta tidak hanya hafal redaksi baitnya saja, tapi juga hafal urutan nomor bait.
Aktivasi kecerdasan musikal
Cara aktivasinya adalah sebagai berikut: a. Pembimbing mencontohkan irama suara bacaan bait yang akan dihafal. b. Peserta mendengarkan setiap contoh irama suara bacaan yang disampaikan pembimbing dengan cermat dan teliti. c. Peserta kemudian melantunkan irama suara yang dicontohkan oleh pembimbing sampai benar. d. Peserta mengulang-ulang melantunkan kalimat dan mengerakkan jari tangan sesuai arahan pembimbing sampai benar-benar hafal. e. Peserta juga menyimak (mendengarkan) dan melantunkan bacaan yang sedang dihafal dengan irama suara kepada peserta lainnya. f. Proses ini terus menerus dilakukan oleh peserta dalam menghafal sehingga teraktivasi perkembangan dan peningkatan kecerdasan musikal. Indikatornya, peserta bisa melantunkan irama dari hafalan secara benar sesuai yang dicontohkan oleh pembimbing.
Aktivasi kecerdasan kinestetik
Cara aktivasinya adalah sebagai berikut: a. Sebelum proses menghafal dimulai, pembimbing menanyakan nomor bait dengan kesesuaian posisi ruas jari tangan. b. Peserta menggerakan jari-jari tangan kiri sesuai dengan nomor bait yang sedang dihafalkan. c. Peserta menggerakkan jari tangan kanan untuk menulis secara imla. Kalau peserta belum bisa melakukan imla, maka peserta menggerakkan tangan kanannya sebagai ketukan, atau ritme panjang pendek bacaan, atau intonasi suara. d. Untuk lebih bersemangat, pembimbing bisa menyarankan peserta untuk berdiri dalam proses menghafalnya sambil menggerakan anggota tubuh yang lain. e. Proses ini terus menerus dilakukan oleh peserta dalam menghafal sehingga teraktivasi perkembangan dan peningkatan kecerdasan kinestetik. Indikatornya, hafalan nomor bait bisa diketahui melalui gerakan ruas jari-jari tangan.
Aktivasi kecerdasan interpersonal
Cara aktivasinya adalah sebagai berikut: a. Pembimbing mengintruksikan para peserta agar berpasangan dalam proses menghafal maupun praktik. b. Peserta saling memerhatikan gerakan bibir pasangan, mimik wajah, intonasi suara hafalan bait. c. Peserta saling memotivasi dan menguatkan dalam proses menghafal dan latihan. d. Peserta saling mengevaluasi dan mencocokan bacaan masing-masing. e. Peserta saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. f. Peserta saling bertanggungjawab terhadap keaktifan, kedisiplinan dan prestasi hafalan pasangannya. g. Proses ini terus menerus dilakukan oleh peserta bersama pasangannya dalam menghafal sehingga teraktivasi perkembangan dan Interpersonal. peningkatan Indikatornya, kecerdasan peserta memperhatikan, memotivasi, saling mengevaluasi, mencocokkan bacaan secara fasih dan benar sesuai yang dicontohkan oleh pembimbing.
Aktivasi kecerdasan intrapersonal
Cara aktivasinya adalah sebagai berikut: a. Pembimbing dalam setiap pertemuan menyampaikan pesan bahwa belajar Al-Qur’an akan membentuk karakter sukses. b. Peserta dimotivasi untuk mandiri, disiplin, menghargai waktu, menghargai prestasi, tangguh dalam menghadapi tantangan menghafal. c. Peserta membiasakan sikap mandiri, disiplin, menghargai waktu, menghargai prestasi, tangguh dalam menghadapi tantangan menghafal. d. Peserta didorong untuk berkompetisi menjadi yang terbaik. e. Proses ini terus menerus dilakukan oleh peserta dalam proses menghafal sehingga teraktivasi perkembangan dan peningkatan kecerdasan Intrapersonal. Indikatornya, peserta tumbuh kesadaran akan pentingnya menghafal, tumbuh sikap mandiri, disiplin, menghargai waktu, menghargai prestasi, dan tangguh dalam menghadapi tantangan menghafal.
Implementasi Listening
Alur penerapan Listening 1. Pembimbing mencontohkan kalimat dengan jelas dan benar. 2. Peserta mendengarkan yang dibacakan oleh pembimbing dengan penuh konsentrasi. 3. Peserta mengulang dengan jelas dan benar antara 3-5 kali sesuai arahan pembimbing. 4. Peserta menyimak bacaan pasangan secara bergantian.
Langkah-Langkah Penerapan Listening
- Pembimbing mencontohkan bacaan dengan jelas dan benar. 2. Peserta mendengarkan dengan penuh konsentrasi materi bacaan yang dicontohkan oleh pembimbing kemudian peserta mengucapkan materi dengan benar dan fasih. 3. Peserta mengulang-ulang pengucapan materi sesuai arahan dari pembimbing sampai benar-benar hafal. 4. Bacaan yang disampaikan oleh pembimbing disarankan tidak lebih dari 3 (tiga) kata agar memudahkan peserta menirukan bacaan yang sedang dihafal.
Implementasi Hand
Alur penerapan Hand
Pertama, Pembimbing membunyikan kalimat dengan jelas dan benar serta memberitahukan posisi jari dan gerakan tangan. Kedua. Peserta menghitung penomoran syair di posisi ruas jari dan menggerakkan tangan kanan. Ketiga. Peserta memindahkan posisi ruas jari mengikuti penomoran bait sambil menggerakkan tangan kanan. Keempat. Peserta mengulang-ulang menggerakkan posisi ruas jari sesuai arahan pembimbing. Kelima. Pembimbing menanyakan posisi ruas jari dari penomoran bait yang sedang dihafal. Langkah penerapan gerakan tangan Satu, Pembimbing mencontohkan bacaan bait yang akan dihafal dengan benar dan menanyakan posisi ruas jari dan penomeran bait. Dua. Peserta menirukan bacaan yang dicontohkan oleh pembimbing, kemudian peserta menempatkan posisi ruas jari sambil tangan kanan digerakkan sebagai irama ketukan atau visualisasi tulisan. Tiga. Peserta mengulang-ulang pengucapan materi hafalan dan posisi ruas jari sambil tangan kanan digerakkan sebagai irama ketukan atau visualisasi tulisan sesuai arahan dari pembimbing sampai benar-benar hafal. Empat. Pembimbing sewaktu-waktu mengevaluasi tentang posisi ruas jari dan penomeran bait sedang berlangsung dihafal. Lima. Jika ditemukan ada peserta yang belum tepat menempatkan posisi ruas jari dalam penomeran bait, maka kemungkinan besar peserta tersebut kurang berkonsentrasi dalam proses menghafal.
Catatan: Pembimbing mengamati dan menyarankan agar peserta selalu menggerakkan tangan kanan selama proses menghafal.
Implementasi Attention Sistem Alur Implementasi Saling Memperhatikan. Pembimbing menyampaikan informasi tentang manfaat attention dan menginstruksikan peserta untuk menentukan sendiri pasangannya. Sesama peserta memerhatikan gerakan bibir dan intonasi suara dalam membunyikan materi. Sesama peserta menyimak bacaan masing-masing. Jika terdapat kekeliruan maka saling membenarkan. Pembimbing memonitor komitmen dan kekompakan sesama pasangan. Sesama peserta saling setor, mengevaluasi, dan memotivasi dalam kegiatan pembelajaran. Langkah Penerapan Saling Memperhatikan 1. Pembimbing menyampaikan informasi tentang manfaat ATTENTION, dan mengintruksikan peserta untuk menentukan sendiri pasangan (mitra) dalam proses menghafal. 2. Peserta memilih pasangan sesuai kehendaknya sendiri, dan masing-masing berkomitmen untuk saling memperhatikan dan mensukseskan proses belajar. 3. Masing-masing pasangan menentukan waktu untuk saling setoran dan melakukan evaluasi sejawat di luar kegiatan bimbingan. 4. Pembimbing menetapkan masing-masing pasangan dengan penomeran (misalnya pasangan 1 terdiri dari A dan B, psangan 2 dan seterusnya..) dan diberitahukan agar tidak berganti-ganti pasangan. 5. Masing-masing peserta pasangan dalam proses menghafal agar saling memperhatikan gerakan bibir, intonasi suara, mimik wajah, menyimak bacaan dan saling menyemangati. 6. Di luar kegiatan bimbingan menghafal, masingmasing peserta untuk saling menyimak dan setoran hafalan, melakukan evaluasi sejawat, memperhatikan keaktifan dan kesemangatan sesama pasangan. 7. Jika ada salah satu pasangan tidak hadir maka pembimbing menanyakan keberadaannya melalui mitra pasangannya.
Implementasi Matching Sistem Alur Implementasi Saling Mencocokan. Pertama, Pembimbing menyampaikan informasi tentang manfaat matching dan menginstruksikan. Kedua, peserta untuk saling mencocokkan dan mengevaluasi. Ketiga, Peserta mencocokkan urutan syair dengan ruas jari tangan. Keempat, Sesama peserta saling mencocokkan bacaan masing-masing. Jika terdapat kekeliruan maka saling membenarkan. Pembimbing memonitor penempatan ruas jari masing-masing peserta. Langkah Penerapan Saling Mencocokkan 1. Pembimbing menyampaikan informasi tentang manfaat Matching dan mengintruksikan peserta untuk saling mencocokkan dan mengevaluasi hasil belajar dengan sesama pasangan. 2. Pembimbing mempraktikkan letak posisi ruas jari ketika memulai menghafal dan menggerakkan posisi ruas jari sesuai dengan nomor bait. 3. Peserta mencocokkan penomeran bait yang sedang dihafal dengan posisi ruas jari. Jika tidak sesuai maka pembimbing memberitahukan posisi ruas jari yang tepat. 4. Masing-masing pasangan menentukan waktu untuk saling setoran dan melakukan evaluasi sejawat diluar kegiatan proses bimbingan. 5. Pembimbing mengintruksikan peserta secara bergantian untuk mencocokkan bacaan dengan pasangan. 6. Di luar kegiatan bimbingan menghafal, masingmasing peserta untuk saling menyimak (mencocokkan) dan setoran hafalan, melakukan evaluasi sejawat, dan mentashih (membetulkan jika ada yang keliru) lembaran yang ditulis oleh masingmasing peserta.