Banyak jalan menuju Roma, demikian pepatah yang sering kita dengar. Begitu pula dalam menghafal, banyak cara dan metode yang tercipta. Semuanya baik sebab telah melewati serangkaian uji coba oleh para penemu maupun mereka yang mengajarkannya baik kepada orang-orang tertentu maupun dalam skala yang lebih besar, komunitas-komunitas. Tak jauh berbeda dengan metode metode yang ada dan dikenal sampai sejauh ini, metode ILHAM yang kami tawarkan ini pun sama. Berawal dari aneka metode yang kami praktikkan di pesantren juga sekolah-sekolah di bawah bimbingan kami. Ada sejumlah kelebihan dan kekurangan dari berbagai metode tersebut. Nah, plus-minus ini kemudian dikaji dan dianalisa bersama tim ahli yang telah lama menggeluti dunia menghafal terutama hafalan kitab ala pesantren. Obrolan seputar metode menghafal ini tak terasa telah berlangsung selama 15 tahun lamanya. Bukan waktu yang singkat, iya kan? Meski membutuhkan waktu yang lama, akhirnya kajian ini membuahkan hasil. “Usaha tak akan membohongi hasi,” kata sang bijak. Nama yang kami pilih adalah metode ILHAM. Tentu saja nama ini tak terasa berlebihan bagi kami. Sebab, “ILHAM” mewakili kajian yang kuat dan perenungan yang mendalam. Sebagaimana maklum, ilham tak mudah didapatkan. Ia membutuhkan proses panjang dan perjuangan yang berlipat ganda. Dengan demikian, ILHAM sebagai metode dimaksudkan untuk menginspirasi bahwa hasil maksimal akan diperoleh melalui cara yang “tak biasa”. Butuh cara yang cerdas dan usaha yang optimal.
Selain itu, pemilihan nama ini sesungguhnya bermuara pada pendayagunaan jenis-jenis kecerdasan (multi-intelligence) yang dimiliki oleh seseorang. Iya, ILHAM adalah singkatan dari Integrated, Listening, Hand, Attention, dan Matching. Yang terpenting dari semua itu adalah kemampuan metode ini dalam menangani sejumlah kelemahan-kelemahan metode menghafal yang selama ini banyak digunakan. Saat menghafal masih dianggap sebagai kerja otak melalui penglihatan belaka, maka tidak demikian dalam metode ini. ILHAM menawarkan tentang cara menghafal praktis yang memadukan berbagai jenis kecerdasan, pendayagunaan indera pendengaran, penglihatan, lisan dan gerakan dengan pola saling memerhatikan dan mencocokkan agar hasil hafalan jauh lebih optimal. Okey, kami akan mengulas lebih dalam apa dan bagaimana metode ILHAM ini.
Integrated: Memadukan 7 Jenis Kecerdasan
Integrated adalah memadukan berbagai jenis kecerdasan yaitu linguistik, matematik, visual, kinestetik, musikal, interpersonal dan intrapersonal. Penggabungan tujuh jenis kecerdasan ini dalam desain pembelajaran diyakini berpengaruh terhadap hasil hafalan yang optimal dan mampu meningkatkan kecerdasan yang selama ini kurang diasah. Tak salah jika seorang Howard Gardner menulis dalam bukunya bahwa manusia memiliki 8 jenis kecerdasan. Temuan Gardner ini mematahkan mitos “bodoh” pada manusia. Tak ada satu orang pun yang “bodoh” dengan tingkat IQ rendah, hanya saja satu kecerdasan lebih dominan dari kecerdasan lainnya. Dalam Frame of Mind: The Theory of multiple Intelligences sebagaimana dikutip Colin Rose (2002), Gardner membagi kecerdasan menjadi delapan jenis. Apa saja jenis kecerdasan yang dimiliki manusia? Yuk, simak baik-baik ulasan berikut ini:
Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan linguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata. Kemampuan yang menonjol antara lain mengerti urutan dan arti kata-kata, menjelaskan, mengajar, bercerita, berdebat, humor, mengingat dan menghafal, analisis linguistik, menulis dan berbicara, main drama, berpuisi, berpidato, juga mahir dalam perbendaharaan kata. Mereka yang memiliki kecerdasan tersebut, mempunyai kecakapan tinggi dalam merespon dan belajar dengan suara dan makna dari bahasa yang digunakan. Orang yang cerdas dalam bidang ini dapat berargumentasi, meyakinkan orang, menghibur, atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya. Mereka senang bermain-main dengan bunyi bahasa melalui teka teki kata, permainan kata (pun) dan tongue twister. Kadang kadang mereka pun mahir dalam hal-hal kecil sebab mereka mampu mengingat berbagai fakta. Siapa sih yang memiliki tipe kecerdasan ini? Dapat kita sebutkan di sini misalnya para jurnalis, komentator, reporter, presenter, juru cerita, penyair, dan pengacara. Orang-orang dengan kecerdasan ini gemar sekali membaca, menulis dengan jelas, dan mampu mengartikan bahasa tulisan secara luas.
Kecerdasan Logis-Matematis
Kecerdasan logis-matematis adalah kecerdasan seputar angka, penalaran dan logika. Kemampuan yang menonjol dalam bidang ini adalah logika, reasoning, pola sebab-akibat, klasifikasi dan kategorisasi, abstraksi, simbolisasi, pemikiran induktif dan deduktif, menghitung dan bermain angka, pemikiran ilmiah problem solving, dan silogisme. Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan programmer. Biasanya mereka memiliki ciri-ciri doyan dengan hal-hal yang bersifat penalaran, mengurutkan, berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, dan pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional. Albert Einstein, Bill Gates CEO Microsoft, Mark Zuckerberg Founder Facebook, Ibnu Sina yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern, al-Khwarizmi penemu Aljabar dan Algoritma adalah deretan manusia yang memiliki kecerdasan ini.
Kecerdasan visual-spasial
Orang dengan tingkat kecerdasan visual-spasial yang tinggi hampir selalu mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan yang dimiliki oleh para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. Contohnya antara lain: Thomas A. Edison, Pablo Picasso, Frank Lloyd Wrigth, Columbus dan Ansel Adams.
Apa sih kecerdasan visual-spasial itu? adalah kecerdasan seseorang yang berdasar pada kemampuan menangkap informasi visual atau spasial, mentransformasi dan memodifikasinya, dan membentuk kembali gambaran visual tanpa stimulus fisik yang asli. Kecerdasan ini tidak tergantung sensasi visual. Kemampuan pokoknya adalah kemampuan untuk membentuk gambaran tiga dimensi dan untuk menggerakkan atau memutar gambaran tersebut. Individu yang dominan memiliki kecerdasan tersebut cenderung berpikir dalam pola-pola yang berbentuk gambar. Mereka sangat menyukai bentuk-bentuk peta, bagan, gambar, video ataupun film sebagai media yang efektif dalam berbagai kegiatan hidup sehari hari. Sederhananya, kalau anda lebih senang pada hal-hal yang berbau gambar-visual, maka kemungkinan besar anda memiliki kecerdasan ini.
Kecerdasan musikal
Kecerdasan ini memungkinkan seseorang menciptakan, mengkomunikasikan dan memahami makna yang dihasilkan oleh suara. Cirinya gampang! Ia akan mudah untuk menyerap, menghargai, dan menciptakan irama dan melodi. Komponen inti dalam pemrosesan informasi meliputi pitch, ritme dan timbre. Terlihat pada komposer, konduktor, teknisi audio, mereka yang kompeten pada musik instrumentalia dan akustik. Kecerdasan musikal juga dimiliki orang yang peka nada, dapat menyanyikan lagu dengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dan yang mendengarkan berbagai karya musik dengan tingkat ketajaman tertentu. Misalnya lagu, “satu ditambah satu sama dengan dua.” Kita dapat menyebut bahwa Mozart, Leonard Bernstein dan Ray Charles sebagai orang-orang yang memiliki kecerdasan musikal. Apakah anda juga?
Kecerdasan kinestetik
Pernahkah anda melihat anak kecil yang hiper-aktif? Ia loncat kesana-kemari, bergerak ke kanan-ke kiri, tidak bisa diam. Jika iya, kemungkinan sejak awal ia telah memiliki kecerdasan ini. Sebab tipe kecerdasan ini membuat seseorang mampu mengendalikan gerakan tubuh dan memainkan benda-benda secara canggih. Orang dengan kecerdasan fisik, akan menikmati kegiatan fisik seperti berjalan kaki, menari, berlari, berkemah, atau berenang. Mereka adalah orang-orang yang cekatan, indra perabanya sangat peka, tidak bisa tinggal diam, dan berminat atas segala sesuatu. Individu tersebut akan cenderung mengekspresikan diri melalui gerak-gerakan tubuh, memiliki keseimbangan yang baik dan mampu melakukan berbagai manuver fisik dengan cerdik. Melalui gerakan tubuh pula individu dapat berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya, mengingat dan memproses setiap informasi yang diterimanya. Saat kecerdasan ini diasah terus menerus maka akan anda melihat kecerdasan ini ada pada seorang koreografer, penari, pemanjat tebing, atlet, pengrajin, montir, dan ahli bedah. Selevel Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi masuk dalam deretan orang dengan tipe kecerdasan kinestetik yang dominan.
Tipe kecerdasan berikutnya adalah Kecerdasan Interpersonal. Dengan kecerdasan ini, orang akan mudah bergaul, memahami dan bekerja sama dengan orang lain. Ia akan begitu peka apa yang dirasakan orang lain. Ia juga cakap melihat sesuatu bukan dari sudut pandang dirinya sendiri melainkan dari sudut pandang orang lain. Berbekal kecerdasan ini, ia akan dengan mudah untuk mengorganisasikan orang-orang di sekitar, membangun kerjasama, maupun menyatukan satu kelompok. Ada sejumlah tokoh penggerak yang kita kenal memiliki kecerdasan ini seperti mendiang presiden pertama RI, Soekarno. Ia dikenal sebagai seorang orator ulung yang mampu meng gerakkan ribuan rakyat Indonesia untuk berjuang. Dengan kemampuan olah kata dan kecakapan merasakan apa yang ada di benak orang lain, ia mampu membangkitkan semangat orang orang yang mendengarkan kata-katanya. Mereka “tersihir”. Namun, dalam keseharian kita menjumpai orang-orang yang memiliki kecerdasan ini misalnya muballigh, kyai, orator, motivator, termasuk provokator.
Kecerdasan intrapersonal
Berbeda dengan kecerdasan interpersonal yang mampu menyihir orang lain, maka tipe kecerdasan ini justru hanya berlaku pada dirinya sendiri. Ia mampu merasakan apa yang sesungguhnya ia rasakan. Ia juga mampu membedakan berbagai macam emosi yang dialaminya. Dan tak kalah penting, ia mampu menggunakan pemeramannya untuk memperkaya sekaligus membimbing hidupnya.
Orang dengan tipe kecerdasan ini, tak akan terlalu bergantung kepada orang lain untuk move on. Bangkit dari kegagalan dan termotivasi untuk maju dan maju. Jadi, dalam kamus hidupnya, tidak akan pernah dijumpai istilah “gagal move on”. Sebab, ia selalu sadar dan mampu mengenali dirinya sendiri sehingga ia akan bangkit dengan caranya sendiri tanpa bantuan orang lain. Jika anda memiliki kecerdasan ini, maka saya ucapkan, selamat! Dengan kecerdasan ini akan menjadi sosok yang mandiri, fokus pada tujuan, dan super disiplin. Termasuk, memilih tindakan apa yang harus anda lakukan saat berada pada kondisi emosi tertentu. Misalnya, saat sedih, apa yang harus anda lakukan? Pun sebaliknya, saat anda begitu senang, apa sih yang mesti anda lakukan? Saat sedih, anda tidak akan pernah larut dalam suasana ini. anda memutuskan untuk bangkit dan meninggalkan kesedihan ini. Pada suasana senang pun anda tidak akan mudah larut dalam kesenangan. Sebab, banyak orang yang larut dalam kesenangan sehingga ia merasa terbang di langit dan kehilangan arah. Nah, kecerdasan ini akan mendukung anda memilih perilaku yang tepat sesuai dengan emosi yang anda alami.
Kecerdasan natural
Gardner menjelaskan inteligensi lingkungan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat membuat distingsi konsekuensial lain dalam alam natural; kemampuan untuk memahami dan menikmati alam; dan menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan pengetahuan akan alam. Orang yang punya inteligensi lingkungan tinggi biasanya mampu hidup di luar rumah, dapat berkawan dan berhubungan baik dengan alam, mudah membuat identifikasi dan klasifikasi tanaman dan binatang. Orang ini mempunyai kemampuan mengenal sifat dan tingkah laku binatang, biasanya mencintai lingkungan, dan tidak suka merusak lingkungan hidup. Salah satu contoh orang yang mungkin punya inteligensi lingkungan tinggi adalah Charles Darwin. Inteligensi lingkungan masih dalam penelitian lebih lanjut karena masih ada yang merasa bahwa inteligensi ini sudah termasuk dalam inteligensi matematis-logis. Namun, Gardner berpendapat bahwa inteligensi ini memang berbeda dengan inteligensi matematis-logis.
Listening: Keterampilan Mendengar
Mendengar adalah aktivitas kita sehari-hari. Mendengar ini dan itu, yang baik maupun yang tidak baik. Semuanya kita dengarkan. Namun, bagaimana jika mendengar dijadikan sebagai suatu keterampilan? Tentu akan berbeda, bukan. Burhan (1971:81) mengungkapkan bahwa mendengarkan adalah suatu proses menangkap, memahami, dan mengingat dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Dalam konsep tersebut terdapat tiga tahapan proses mendengarkan. Pertama, Tahap menangkap dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Kedua, Tahap memahami dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Ketiga, Tahap mengingat dengan sebaik-baiknya apa yang didengarnya atau sesuatu yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Mendengarkan sebagai sebuah keterampilan lebih banyak diadopsi dalam pembelajaran bahasa asing, inggris maupun arab. Caranya, dengan latihan mendengar (ear training) kemudian diikuti dengan latihan mengucapkan kata-kata atau kalimat kalimat (speak training) dalam bahasa asing. Konsep ini dalam pembelajaran bahasa asing disebut methode phonetic. Sedangkan, dalam pembelajaran bahasa arab dikenal dengan istilah metode as-sam’iyyah as-syafahiyah, yaitu cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan pembelajaran bahasa Arab dengan cara mendengarkan dan berbicara. Dengan metode ini praktek-praktek penggunaan bahasa arab lebih ditekankan dan lebih banyak menggunakan kosakata atau kalimat. Metode mendengarkan adalah cara pembimbing mencontohkan bacaan yang akan dihafal oleh peserta dengan cara berlatih mendengarkan dan berlatih mengucapkan (melafdzakan) sesuai bacaan yang dipraktekkan oleh pembimbing. Sebagaimana saya ungkapkan di atas, mendengar adalah aktivitas keseharian kita. Oleh karenanya, Tarigan (1983: 22) membagi jenis mendengarkan atas dasar proses mendengar yang diperoleh dari dua jenis yaitu ekstensif dan intensif. Jenis pertama berlaku pada saat kita mendengarkan siaran radio, televisi, percakapan orang di pasar, pengumuman, dan sebagainya. Sedangkan jenis kedua, saat kita mendengarkan dengan sungguh-sungguh, full konsentrasi untuk menangkap, memahami, dan mengingat informasinya. Jenis mendengarkan kedua inilah yang akan dimaksimalkan dalam metode ini. Sebab, dengan mendengarkan intensif ini peserta bisa meningkatkan daya konsentrasi dan fokus terhadap berbagai pelajaran yang disampaikan oleh pembimbing. Mungkin masih menjadi pertanyaan, mengapa harus Listening? Ada empat alasan mengapa listening dipilih menjadi media menghafal. Yuk, simak alasan-alasan berikut ini.
Pendengaran, tercipta dan berfungsi lebih awal
Dalam Al Quran, kata ‘mendengar’ selalu disebutkan lebih awal dari kata ‘melihat’. “terciptanya indera pendengaran lebih dahulu ketimbang penglihatan,” demikian ungkap Dr. Husain Ridhan al Balidy dalam makalahnya, I’ijaz Al Quran al-Karim (kemukjizatan al Qur’an) yang dimuat dalam salah satu edisi Majalah al-Liwa’ al Islami, Mesir 2002. Faktanya, Allah SWT telah menciptakan indera pendengaran sejak bayi masih berada dalam kandungan pada saat kandungan usia 8 minggu. Pembentukan indera pendengar bayi akan selesai pada saat janin berusia 24 minggu. Dan pada saat usia janin 25 minggu, dia sudah bisa mendengar. Hebatnya lagi, indera pendengaran adalah satu-satunya indera yang aktif non-stop, 24 jam. Buktinya, saat anda terlelap tidur, pendengaran tetap aktif dan sensitif. Anda bisa saja terjaga di tengah malam karena mendengar sesuatu. Iya, kan?
Mengontrol sistem syaraf
Temuan terpenting mengenai indera pendengaran adalah hasil eksperimen yang dilakukan oleh Alfred Tomatis, seorang dokter warga negara Perancis. Selama lima puluh tahun ia meneliti seluruh indera yang ada pada manusia dan hasilnya bahwa indera pendengaran merupakan indera yang paling penting. Ia menemukan bahwa pendengaran mengontrol seluruh tubuh, mengatur operasi-operasi vitalnya, keseimbangan, dan koordinasi gerakan-gerakannya. Ia juga menemukan bahwa telinga mengontrol sistem syaraf. Selama eksperimennya, ia menemukan bahwa syaraf pendengaran terhubung dengan seluruh otot tubuh, dan ini adalah alasan mengapa keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, serta indera penglihatan itu terpengaruh oleh suara. Telinga bagian dalam terhubung dengan seluruh organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati, perut, dan usus. Hal ini menjelaskan mengapa frekuensi-frekuensi suara itu mempengaruhi seluruh tubuh.
Bisa Audio Terapi
Siapa sangka, suara manusia memiliki nada spiritual khusus yang membuatnya menjadi sarana pengobatan yang paling kuat. Menurut Fabian yang berprofesi sebagai peneliti dan musisi menemukan bahwa beberapa suara dapat menghancurkan sel sel kanker, dan pada waktu yang sama dapat mengaktifkan sel sel yang sehat. Tak jauh berbeda dengan hasil penelitian ini, Masaru Emoto, seorang ilmuwan Jepang, menemukan bahwa medan elektromagnetik pada molekul-molekul air itu sangat terpengaruh oleh suara dan ada suara-suara tertentu yang memengaruhi molekul dan membuatnya lebih teratur.
Terinspirasi cara menghafal Nabi Muhammad Saw
Peristiwa terhebat sepanjang masa mungkin ada proses bagaimana wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Proses menghafal nabi diabadikan dalam QS. Al-Qiyamah: 18, “Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” Dengan demikian, mendengar sebagai media menghafal telah ada jauh sebelum adanya perkembangan media pembelajaran. Buktinya, nabi menggunakan indera pendengaran sebagai media menghafal. Lantas, apa saja manfaat listening dalam metode ini? 1. Metode ini mengajarkan kemampuan membaca (melafadzkan) dengan baik, lancar dan fasih 2. Bisa menyimak kesalahan bacaan baik dari pembimbing atau peserta lainnya, untuk kemudian diperbaiki letak letak kesalahannya tersebut. 3. Peserta menjadi aktif dan selalu memberi respon pada stimulasi yang disampaikan oleh pembimbing. 4. Peserta menjadi lebih fokus dan konsentrasi dalam proses menghafal. 5. Peserta mampu meningkatkan kecerdasan linguistik dan kecerdasan musikal.
Hand: Gerakan Jari-jari Tangan
Tangan adalah organ penting bagi manusia saat melakukan aktivitas. Banyak juga profesi yang membutuhkan keahlian khusus dengan memaksimalkan kinerja tangan. Akan tetapi, selama ini tangan dianggap hanya memiliki fungsi sederhana untuk mengambil sesuatu. Padahal, kekuatan tangan lebih dari itu. Penelitian terkini menyebutkan bahwa tangan khususnya bagian jari jemari memiliki peran penting terhadap kinerja otak dalam mengingat suatu informasi. Adalah Dr. Ruth Propper (2013), peneliti di Montclair State Univeversity, dalam artikelnya “Getting a grip on memory : unilateral hand clenching alters episodic recall”, menulis bahwa gerakan tangan kanan mengaktifkan daerah otak yang bekerja untuk menyimpan ingatan, sementara tangan kiri memicu area otak sebagai kunci mendapatkan kembali informasi. Gerakan tangan baik kanan maupun kiri memengaruhi kinerja otak untuk menyimpan informasi dan mengingatnya kembali. Berangkat dari hasil penelitian ini, maka Hand dalam metode ini didesain sebagai pendekatan yang mendayagunakan gerakan tangan dalam rangka penguatan ingatan (hafalan) yang tersimpan dalam otak, memicu daya semangat, dan penguatan kemampuan motorik seseorang. Gerakan tangan ini dapat (membantu) menentukan ketukan intonasi suara dan visualisasi redaksi nazham. Juga, tiap ruas-ruas jari bisa bermakna penomoran nazham dan identifikasi posisi nazham dalam setiap baris di masing-masing halaman. Metode gerakan tangan atau disebut juga thariqoh al-yadain adalah cara menghafal dengan menggerakkan tiap ruas jari untuk penomoran masing-masing nazham dan menggerakan tangan kanan untuk ketukan intonasi suara atau visualisasi redaksi nazham dengan cara penulisan imlai. Dengan cara gerakan tangan ini bisa menguatkan daya hafalan dan sebagai kunci mendapatkan kembali informasi (nazham) yang telah dihafal. Lalu, apa manfaat Hand? Sekurang-kurangnya ada empat manfaat dari gerakan jari tangan ini, yaitu: 1. Bisa mengenali kesalahan melalui jari-jari tangan saat hafalan tidak berurutan. 2. Peserta menjadi aktif dan saling menyemangati antar peserta lainnya. 3. Peserta menjadi lebih fokus dan konsentrasi dalam proses menghafal. 4. Peserta mampu meningkatkan kecerdasan kinestetik, matematik, interpersonal dan visual.
Attention: Saling Memerhatikan
Attention adalah cara menghafal dengan memerhatikan gerakan bibir, mimik wajah dan intonasi suara peserta yang berada pada posisi saling berhadapan. Fokus perhatiannya adalah memerhatikan pasangan yang berada di hadapan untuk saling memotivasi dalam rangka proses menghafal. Sesama peserta saling mengamati gerakan bibir sebagai visualisasi kalimat yang sedang dihafal karena proses menghafalnya dilakukan dengan tidak melihat teks tulisan. Upaya menghafal dengan tidak melihat teks tulisan secara langsung dimaksudkan agar santri tidak memiliki ketergantungan terhadap kitab atau objek tulisan. Karena menghafal sejatinya adalah ikhtiar untuk menyimpan informasi ke dalam memori otak. Tujuan Attention ini adalah agar peserta bisa saling memerhatikan, memotivasi dan mengevaluasi proses ketika menghafal. Attention merupakan pendekatan untuk memicu kepedulian dan daya semangat dalam penguatan kemampuan hafalan seseorang. Lumrahnya, dalam proses menghafal seseorang akan merasa powerfull karena ada yang senantiasa selalu memperhatikan dan menyemangati sehingga tidak menemukan kejenuhan selama menghafal. Cara ini dapat membantu penguatan visualisasi redaksi nazham. Pola seperti ini tidak hanya berlaku hanya dalam proses bimbingan menghafal, melainkan juga di luar kegiatan bimbingan. Mereka dituntut untuk saling peduli dan memerhatikan. Termasuk dalam hal ini adalah aspek keaktifan dan kualitas hafalan. Di antara mereka harus saling mendorong untuk keberhasilan dalam menghafal. Asyik, kan! Saat jenuh, ada teman yang menemani. Saat semangat tak lagi berkobar, ada teman yang menjaganya tetap menyala. Saat anda lupa, selalu ada sahabat (sejati) yang mengingatkan. Jika ini terus dijalankan, hubungan sesama peserta akan terjalin makin erat. Berikutnya, empati di antara mereka akan tumbuh dan berkembang. Sehingga mereka tidak akan merasa bahwa menghafal itu dilakukan secara sendirian. Semangat dalam diri mereka akan tumbuh dengan mudah seiring lingkungan yang dibangun secara bersama-sama. Hal yang wajar jika terjadi kelupaan atau kesalahan dalam proses menghafal. Ini biasa. Oleh karenanya, Peran teman atau pasangan sangat diperlukan di sini. Saat terjadi kesalahan harokat atau kekurangan kalimat yang dihafal maka pasangannya lah yang akan membantu membetulkannya. Sehingga meminimalisir kesalahan “abadi” informasi (hafalan) sebelum melekat dalam otak kita. Metode demikian serupa dengan metode tutor sebaya yang diterapkan untuk menunjang keberhasilan belajar siswa. Kesalahan “abadi” merupakan istilah dalam menghafal. Hal ini terjadi karena kekurang hati-hatian seseorang ketika menghafal. Karena biasanya proses menghafal dilakukan secara sendiri sendiri. Sehingga kesalahan demikian sering tidak disadari. Mereka menganggap bahwa materi yang dihafalnya telah sempurna. Padahal di luar kesadaran tersebut terdapat kekurangan. Kesalahan model ini akan teratasi oleh bantuan teman pasangannya. Sehingga menghafal dengan metode ILHAM menjadi solusi untuk meminimalisir terjadinya kesalahan dalam proses menghafal. Berikut ini, kami uraikan manfaat attention, sebagai berikut: 1 Metode ini mengajarkan untuk saling memperhatikan antar sesama pasangan dalam proses menghafal. Fokus perhatian meliputi gerakan bibir, intonasi suara, dan bacaan selama proses menghafal. 2 Sesama peserta bisa saling membenarkan ketika terjadi kesalahan dalam bacaan pada saat proses menghafal. 3 Sesama peserta menjadi aktif dan saling menyemangati sehingga tumbuh kepedulian terhadap sesama selama proses menghafal. 4 Sesama Peserta bisa saling setor hafalan dan mengevaluasi selama proses menghafal. 5 Peserta mampu meningkatkan kecerdasan visual, musikal, linguistik, intrapersonal, dan interpersonal.
Matching: Saling Mencocokkan
Baiklah, kita tiba pada kunci terkahir dari metode ini yakni Matching. Apa itu? adalah cara menghafal dengan saling mencocokkan antar peserta secara berpasangan dalam hal: pertama bunyi hafalan dengan posisi jari tangan, kedua menyimak hafalan secara bergantian, dan ketiga men-tashih (membetulkan jika terjadi kekeliruan) lembaran naskah yang ditulis secara bergantian. Pola ini bisa mengukur tingkat konsentrasi peserta dalam proses menghafal melalui uji kecocokkan antara bunyi hafalan dengan posisi ruas jari. Karena untuk menggerakkan posisi ruas jari dan perpindahan bait nazham dibutuhkan konsentrasi tersendiri. Jika ditemukan bunyi bait nazham dengan ruas jari tidak sesuai (cocok), maka berarti peserta kurang konsentrasi dalam proses menghafalnya. Misalnya, ketika kita membaca nazham ke-1, maka posisi ruas jari yang kita pegang adalah ruas ke satu di jari kelingking. Ketika kita membaca nazham ke-2, maka posisi ruas jari yang kita pegang adalah ruas ke dua di jari kelingking. Ketika membaca nazham ke-3, maka ruas jari yang dipegang adalah ruas ketiga jari kelingking. Ketika membaca nazham ke-4, maka ruas jari yang dipegang adalah ruas keempat jari kelingking. Sedangkan ketika membaca nazham ke-5, maka ruas jari yang dipegang adalah ruas kesatu jari manis, begitu seterusnya.
Setiap ruas jari berarti satu bait nazham, sehingga mulai jari kelingking sampai jari telunjuk, masing-masing berisi 4 nazham. Sehingga jika terjadi misalnya, seseorang membaca nazham ke 5 sedangkan posisi ruas jari yang dipegangnya adalah ruas jari kesatu di jari tengah, maka itu mengindikasikan bahwa dia “gagal fokus”. Karena seharusnya posisi ruas jarinya adalah di ruas jari kesatu jari kelingking. Metode demikian bukan hanya dipergunakan untuk mengetahui tata letak nazham yang sedang dibacanya. Namun juga berguna untuk mengetahui nazaham berapa yang sedang dibaca tersebut. Matching merupakan pendekatan untuk saling menyimak, mencocokkan dan mengevaluasi hafalan nazham demi nazham antar sesama pasangan, sehingga jika ditemukan kekeliruan hafalan dapat langsung di-tashih atau dibenarkan oleh sesama pasangan. Di samping itu, Matching juga dilakukan untuk saling men-tashih lembaran naskah sebagai instrumen penguatan hafalan. Jika ditemukan kekeliruan dalam penulisan maka bisa langsung di-tashih oleh sesama pasangan. Pola matching ini bisa dikembangkan untuk mendeteksi sejak dini jika terjadi kekeliruan dalam menghafal melalui ruas jari dan penulisan lembaran mushaf. Dengan pola ini sesama peserta bisa saling mengevaluasi dan mendorong keberhasilan proses menghafal. Nah, dari penerapan pola saling mencocokkan ini, peserta akan menikmati beberapa manfaat di bawah ini: 1 Metode ini mengajarkan untuk saling mencocokkan dan mengevaluasi antar sesama pasangan dalam proses menghafal. Pola mencocokkan meliputi kesesuaian antara bunyi hafalan dengan posisi ruas jari, kesesuaian semaan hafalan dan kesesuaian penulisan. 2 Sesama peserta bisa saling mencocokkan, men-tashih dan mengevaluasi ketika terjadi kesalahan dalam bacaan saat proses menghafal. 3 Sesama peserta menjadi aktif dan saling menyemangati sehingga tumbuh kepedulian terhadap sesama selama proses menghafal. Peserta mampu meningkatkan kecerdasan matematikal, intrapersonal dan interpersonal. musikal, linguistik,