web analytics

Adab dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kitab yang mulai bersumber dari yang Maha Mulia. Diturunkan pada malam penuh kemuliaan. Dihantarkan oleh malaikat Jibril dengan jubah kemuliaan. Dan, diserahkan kepada sosok yang selalu menebar benih-benih kemuliaan: Nabi Muhammad Saw. Sudah sewajarnya, kita berusaha untuk memperlakukan AlQur’an dengan istimewa. Berbeda dengan buku atau kitab-kitab lainnya. Tak mengherankan jika banyak ulama yang memberi perhatian lebih terhadap etika bergaul dengan Al-Qur’an. Bahkan, ada di antara mereka yang menulis karya khusus membincang topik ini. Salah satunya adalah Imam An-Nawawi (631-676 H). Beliau menulis buku berjudul At-Tibyân fî Âdâb Hamalat Al-Qurân (Penjelasan Etika Pembaca Al-Qur’an). Beberapa etika yang dianjurkan para ulama antara lain (Ar-Rûmî & Az-Za’balâwi, 1996):

Memperhatikan kesucian

Sebelum memulai mempelajari dan membaca Al-Qur’an agar memerhatikan aspek kesucian. Baik suci dari hadats besar dan kecil, tempat, pakaian, mulut, fisik, arah menghadap, lisan, dan kesucian level tertinggi menyangkut kesucian hati. Para ulama sepakat bahwa suci dari hadats besar merupakan pra syarat yang harus dipenuhi siapa saja yang berkeinginan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Sedangkan suci dari hadats kecil memang terdapat perbedaan pendapat. Hanya saja, jika alat ukurnya adalah etika, maka suci dari hadats kecil menjadi prioritas.

Sebagai bentuk penghormatan dan sikap memuliakan Al-Qur’an. Selain unsur ini, tempat di mana kita akan mengaji mesti diperhatikan. Lokasi mengaji sekurang-kurangnya bersih dan suci.Yang demikian ini tidak hanya berkaitan dengan agama melainkan juga meningkatkan kenyamanan. Sehingga dalam belajar maupun membaca Al-Qur’an, suasana di sekeliling kita menjadi energi plus. Apakah suasana di sekitar begitu menentukan? Iya. Tempat yang bersih, suci, sejuk, dan tenang, membuat kita mendapatkan kenyamanan dalam membaca AlQur’an. Bagaimana dengan pakaian? Ini juga perlu diperhatikan tingkat kesuciannya. Kira-kira seperti kita hendak menghadiri sebuah acara. Rapi, bersih, dan tidak asal-asalan. Dalam sebuah kisah, Ibnu Mas’ud selalu tampil elegan dan rapi. Aroma wangi menyerbak dari tubuhnya. Ia berdandan seolah-olah akan menghadap seorang presiden. Ini dilakukan setiap kali ingin membaca Al-Qur’an. Penggunaan kata bersih dan suci agar tidak terjadi kekaburan pemahaman. Bersih tidak serta merta berstatus suci. Pemahaman ini terkadang menyulitkan. Tak jarang menimbulkan rasa was-was: meski bersih, jangan-jangan belum suci. Berpikir seperti ini baik, baik sekali. Hanya saja tidak perlu seketat ini. Cukup berpikir bahwa jika sesuatu didapati bersih maka kemungkinan besar (ghalabat azh-zhân) sudah suci. Demikian juga kotor tidak bisa langsung dikatakan najis. Lantai berdebu, misalnya, akan kita katakan “kotor” namun dalam kacamata agama belum tentu bernajis (mutanajjis) selama tidak ditemukan sesuatu yang dianggap najis oleh agama.

Keajaiban Membaca Al-Qur’an Aspek kesucian selanjutnya adalah tidak keluar bau tak sedap dari mulut dan badan. Bisa dipastikan keduanya memproduksi cairan yang menimbulkan bau tak sedap. Tak jarang, hal ini menimbulkan hilangnya percaya diri saat berada di tengah kerumunan orang. Di tempat kerja, pusat perbelanjaan, sekolah, kampus, tempat ibadah, pengajian, bahkan ketika kumpul dengan keluarga. Kesucian keduanya akan berimplikasi pada perhatian kita terhadap kesehatan mulut dan fisik yang boleh jadi sering kita abaikan (Adrian, 2021). Etika selanjutnya berkaitan dengan arah menghadap ketika belajar atau membaca Al-Qur’an. Yakni, menghadap kiblat sebagaimana kita mengarahkan seluruh perbuatan baik kita. Seperti shalat, adzan, dan berdoa.  Kemudian, kesucian lisan yang dapat dicapai dengan membaca isti’âdzah (permohonan perlindungan) dan basmalah (permintaan pertolongan). Dalam hal ini, fungsi isti’âdzah untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang bersumber dari lisan kita. Dengan basmalah, seakan-akan menghiasi lisan kita dengan mengucapkan zikir Allah Ar-Rahmân Ar-Rahîm.  Imam Al-Ghazali pernah berdiskusi dengan murid-muridnya. Ia mengatakan, “apakah yang paling tajam di dunia ini?” Semuanya menjawab, “pedang!” Al-Ghazali tersenyum. Beliau tak menyalahkan jawaban semua muridnya. Karena “tajam” identik dengan pedang.  Namun, bukan itu jawaban yang diinginkan Al-Ghazali. Sejurus kemudian, ia mengatakan bahwa yang paling tajam di dunia ini adalah lidah manusia. Dengannya, seseorang tak sadar bahkan tak segan-segan menyakiti orang-orang di sekitarnya. Hati yang terluka, teramat sukar disembuhkan (NU Online, 2011). Yang terakhir adalah kesucian hati yang harus dijaga dari kepentingan-kepentingan bersifat sesaat, sementara, dan pragmatis. Yang mesti ditanamkan di hati kita adalah tujuan (goal) jangka panjang, besar, dan bernilai (valuable). Yakni, mengharap ridlo Allah.

Membaca Al-Qur’an dengan Indah dan Tartîl

Etika yang kedua ini berhubungan dengan cara membaca ayat ayat Bukan sekadar membaca melainkan menyenandungkannya agar orang yang mendengar maupun kita sendiri merasakan kenikmatan dari bacaan tersebut.  Hanya saja, kita terlahir dengan segala perbedaan yang ada. Mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, hingga suara. Banyak orang mendambakan memiliki suara indah dan merdu. Jika benarbenar memiliki suara yang merdu, maka ini merupakan anugerah besar dari Allah yang dapat dimanfaatkan dengan baik. Di lain sisi, banyak juga yang dilahirkan dengan suara pas-pasan, biasa-biasa saja. Tapi, itu bukan masalah dalam membaca AlQur’an. Sebab, Nabi berpesan: “hiasilah Al-Qur’an dengan suarasuara kalian.” Tak peduli bagaimana pun kualitas suara kita, Nabi meminta kita membaca Al-Qur’an dengan indah.  Mengindahkan suara saat membaca Al-Qur’an, harus dilengkapi dengan tartil. Maksudnya membaca Al-Qur’an dengan perlahanlahan agar mampu menjangkau makna dan pesan di balik ayat tersebut (Katsir, 1999). Tartil juga bermakna membaca huruf Keajaiban Membaca Al-Qur’an huruf Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidahnya dan mengetahui kapan saatnya berhenti juga kapan memulai bacaan (tajwîd al-hurûf wa ma’rifat al-wuqûf) (Thayalisi & Badrudin, 2021). Pemahaman tentang makna tartil yang lebih komprehensif adalah membaca Al-Qur’an dengan tenang, khusyu’, dan merenungkan kandungannya sambil menerapkan kaidah-kaidah dan hukum-hukum tajwid (Al-Jamal, 2014). Singkat kata, membaca Al-Qur’an dapat diukur dengan 3B: baik, benar, dan bagus. Baik berhubungan dengan kualitas sikap ketika melafalkan ayat demi ayat dalam Al-Qur’an. Benar berkaitan dengan penerapan kaidah dan hukum tajwid. Sedangkan bagus, berarti membunyikan Al-Qur’an dengan nada dan intonasi yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *